Kristalografi adalah suatu cabang dari mineralogi yang mempelajari sistemsistem
kristal. Suatu kristal dapat didefinisikan sebagai padatan yang secara
esensial mempunyai pola difraksi tertentu (Senechal, 1995 dalam Hibbard,
2002). Jadi, suatu kristal adalah suatu padatan dengan susunan atom
yang berulang secara tiga dimensional yang dapat mendifraksi sinar X. Kristal
secara sederhana dapat didefinisikan sebagai zat padat yang mempunyai
susunan atom atau molekul yang teratur. Keteraturannya tercermin dalam
permukaan kristal yang berupa bidang-bidang datar dan rata yang mengikuti
pola-pola tertentu.
Bidang-bidang datar ini disebut sebagai bidang muka kristal. Sudut antara
bidang-bidang muka kristal yang saling berpotongan besarnya selalu
tetap pada suatu kristal. Bidang muka kristal itu baik letak maupun arahnya
ditentukan oleh perpotongannya dengan sumbu-sumbu kristal. Dalam
sebuah kristal, sumbu kristal berupa garis bayangan yang lurus yang menem-
bus kristal melalui pusat kristal. Sumbu kristal tersebut mempunyai satuan
panjang yang disebut sebagai parameter.
2.1 Kimia Kristal
Komposisi kimia suatu mineral merupakan hal yang sangat mendasar, beberapa
sifat-sifat mineral/kristal tergantung kepadanya. Sifat-sifat mineral/
kristal tidak hanya tergantung kepada komposisi tetapi juga kepada
susunan meruang dari atom-atom penyusun dan ikatan antar atom-atom
penyusun kristal/mineral.
Komposisi kimia kerak bumi
Bumi dibagi menjadi:
_ kerak
_ mantel, dan
_ inti bumi
ketebalan kerak bumi di bawah kerak benua sekitar 36 km dan di bawah kerak
samudra berkisar antara 10 sampai 13 km. Batas antara kerak dengan mantel
dikenal dengan Mohorovicic discontinuity.
Kimia kristal Sejak penemuan sinar X, penyelidikan kristalografisinar X
telah mengem-bangkan pengertian kita tentang hubungan antara kimia dan
struktur. Tujuannya adalah: 1) untuk mengetahui hubungan antara susunan
atom dan komposisi kimia dari suatu jenis kristal. 2) dalam bidang geokimia
tujuan mempelajari kimia kristal adalah untuk memprediksi struktur kristal
dari komposisi kimia dengan diberikan temperatur dan tekanan.
Daya Ikat dalam Kristal
Daya yang mengikat atom (atau ion, atau grup ion) dari zat pada kristalin
adalah bersifat listrik di alam. Tipe dan intensitasnya sangat berkaitan dengan
sifat-sifat fisik dan kimia dari mineral. Kekerasan, belahan, daya lebur, kelistrikan
dan konduktivitas termal, dan koefisien ekspansi termal berhubungan
secara langsung terhadap daya ikat.(a)
(b)
GAMBAR 2.1: Sistem kubik: (a) asli, (b) modi_kasi
Secara umum, ikatan kuat memiliki kekerasan yang lebih tinggi, titik leleh
yang lebih tinggi dan koefisien ekspansi termal yang lebih rendah. Ikatan
kimia dari suatu kristal dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu: ionik, kovalen,
logam dan van der Waals.
2.2 Sistem kristal
Hingga saat ini baru terdapat 7 macam sistem kristal. Dasar penggolongan
sistem kristal tersebut ada tiga hal, yaitu:
_ jumlah sumbu kristal,
_ letak sumbu kristal yang satu dengan yang lain
_ parameter yang digunakan untuk masing-masing sumbu kristal
Adapun ke tujuh sistem kristal tersebut adalah:
2.2.1 Sistem isometrik
Sistem ini juga disebut sistem reguler, bahkan sering dikenal sebagai sistem
kubus/kubik (Gambar 2.1). Jumlah sumbu kristalnya 3 dan saling tegak lurus
satu dengan yang lainnya. Masing-masing sumbu sama panjangnya.
2.2.2 Sistem tetragonal
Sama dengan sistem isometrik, sistem ini mempunyai 3 sumbu kristal yang
masing-masing saling tegak lurus (Gambar 2.2). Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang yang sama. Sedangkan sumbu c berlainan, dapat lebih panjang
atau lebih pendek (umumnya lebih panjang).
(a)
(b)
(c)
GAMBAR 2.2: Sistem tetragonal: (a)
asli, (b) modikasi, dan (c) scheelite
2.2.3 Sistem rombis
Sistem ini disebut juga orthorombis (Gambar 2.3) dan mempunyai 3 sumbu
kristal yang saling tegak lurus satu dengan yang lain. Ketiga sumbu kristal
tersebut mempunyai panjang yang berbeda.
2.2.4 Sistem heksagonal
Sistem ini mempunyai empat sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap
ketiga sumbu yang lain. Sumbu a, b, dan d masing-masing saling membentuk
sudut 120_ satu terhadap yang lain (Gambar 2.4). Sumbu a, b, dan d
mempunyai panjang yang sama. Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih
panjang atau lebih pendek (umumnya lebih panjang).
(a)
(b)
GAMBAR 2.3: Sistem ortorombik: (a) asli, (b) modi_kasi
(a)
(b)
(c)
(d)
GAMBAR 2.4: Sistem heksagonal: (a) asli, (b) modifikasi, (c) vanadinit, dan (d) kuarsa
(a)
(b)
(c)
GAMBAR 2.5: Sistem trigonal: (a) asli,
(b) modifikasi, dan (c) kalsit
2.2.5 Sistem trigonal
Beberapa ahli memasukkan sistem ini ke dalam sistem heksagonal (Gambar
2.5). Demikian pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya bila
pada trigonal setelah terbentuk bidang dasar, yang berbentuk segienam kemudian
dibuat segitiga degnan menghubungkan dua titik sudut yang melewati
satu titik sudutnya.
2.2.6 Sistem monoklin
Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu
yang dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu b; b tegak lurus
terhadap c, tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu
tersebut mempunyai panjang yang tidak sama, umumnya sumbu c yang
paling panjang dan sumbu b yang paling pendek.
(a)
(b)
(c)
GAMBAR 2.6: Sistem monoklin: (a) asli, (b) modi_kasi, dan (c) mineral krokoit
(a)
(b)
(c)
GAMBAR 2.7: Sistem triklin: (a) asli, (b)
modifikasi, dan (c) rodokrosit.
2.2.7 Sistem triklin
Sistem ini mempunyai tiga sumbu yang satu dengan lainnya tidak saling tegak
lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama.
2.3 Unsur-unsur simetri kristal
Dari masing-masing sistem kristal dapat dibagi lebih lanjut menjadi klas-klas
kristal yang jumlahnya 32 klas. Penentuan klasi_kasi kristal tergantung dari
banyaknya unsur-unsur simetri yang terkandung di dalamnya. Unsur-unsur
simetri tersebut meliputi:
1. bidang simetri
2. sumbu simetri
3. pusat simetri
2.3.1 Bidang simetri
Bidang simetri adalah bidang bayangan yang dapat membelah kristal menjadi
dua bagian yang sama, dimana bagian yang satu merupakan pencerminan
dari yang lain. Bidang simetri ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bidang
simetri aksial dan bidang simetri menengah.
Bidang simetri aksial bila bidang tersebut membagi kristal melalui dua sumbu
utama (sumbu kristal). Bidang simetri aksial ini dibedakan menjadi dua,
yaitu bidang simetri vertikal, yang melalui sumbu vertikal dan bidang simetri
horisontal, yang berada tegak lurus terhadap sumbu c. Bidang simetri menengah
adalah bidang simetri yang hanya melalui satu sumbu kristal. Bidang
simetri ini sering pula dikatakan sebagai bidang siemetri diagonal.
2.3.2 Sumbu simetri
Sumbu simetri adalah garis bayangan yang dibuat menembus pusat kristal,
dan bila kristal diputar dengan poros sumbu tersebut sejauh satu putaran
penuh akan didapatkan beberapa kali kenampakan yang sama. Sumbu simetri
dibedakan menjadi tiga, yaitu gire, giroide dan sumbu inversi putar. Ketiganya
dibedakan berdasarkan cara mendapatkan nilai simetrinya.
Gire, atau sumbu simetri biasa, cara mendapatkan nilai simetrinya adalah
dengan memutar kristal pada porosnya dalam satu putaran penuh. Bila terdapat
dua kali kenampakan yang sama dinamakan digire, bila tiga trigire (4),
empat tetragire (3), heksagire (9) dan seterusnya.
Giroide adalah sumbu simetri yang cara mendapatkan nilai simetrinya dengan
memutar kristal pada porosnya dan memproyeksikannya pada bidang
horisontal. Dalam gambar, nilai simetri giroide disingkat tetragiroide ( ) dan
heksagiroide ( ).
Sumbu inversi putar adalah sumbu simetri yang cara mendapatkan nilai
simetrinya dengan memutar kristal pada porosnya dan mencerminkannya
melalui pusat kristal. Penulisan nilai simetrinya dengan cara menambahkan
bar pada angka simetri itu.
2.3.3 Pusat simetri
Suatu kristal dikatakan mempunyai pusat simetri bila kita dapat membuat
garis bayangan tiap-tiap titik pada permukaan kristal menembus pusat kristal
dan akan menjumpai titik yang lain pada permukaan di sisi yang lain dengan
jarak yang sama terhadap pusat kristal pada garis bayangan tersebut.
Atau dengan kata lain, kristal mempunyai pusat simetri bila tiap bidang muka
kristal tersebut mempunyai pasangan dengan kriteria bahwa bidang yang
berpasangan tersebut berjarak sama dari pusat kristal, dan bidang yang satu
merupakan hasil inversi melalui pusat kristal dari bidang pasangannya.
2.4 Klasifikasi kristal
Dari tujuh sistem kristal dapat dikelompokkan menjadi 32 klas kristal. Pengelompokkan
ini berdasarkan pada jumlah unsur simetri yang dimiliki oleh
kristal tersebut. Sistem isometrik terdiri dari lima kelas, sistem tetragonal
mempunyai tujuh kelas, rombis memiliki tiga kelas, heksagonal mempunyai
tujuh kelas dan trigonal lima kelas. Selanjutnya sistem monoklin mempunyai
tiga kelas.
Tiap kelas kristal mempunyai singkatan yang disebut simbol. Ada dua
macam cara simbolisasi yang sering digunakan, yaitu simbolisasi Schon_ies
dan Herman Mauguin (simbolisasi internasional).
Sabtu, 16 Mei 2009
Kristalografi dasar
Deskripsi Fosil
Kumpulan Deskripsi Fossil
Hastigerina aequilateralis CUSHAN & JARVIS
Cangkang planispiral, pada tahap awal trochospiral sangat rendah, sisi equatorial lobulate, sisi axial membundar, dinding kamar permukaannya halus dan berpori kasar, kamar inflated, sub-globular agak saling melingkupi, berkisar tiga putaran, pada putaran kamar terakhir terdapat empat sampai lima kamar, sutura pada bagian umbilical radial dan tertekan, aperture interiomarginal dan ekstraumbilical, sangat dangkal dan dikelilingi bibir dan rim yang kurang jelas.
Globoquadrina altispira (CHUSMAN and JARVIS)
Cangkang trochospiral menengah sampai tinggi, equatorial periphery lobulate, dengan dorso-peripheral shoulders, dinding berpori kasar, permukaan pitted kadang hispid, kamar pada bagian berikutnya spherical, dimana kamar terakhir tertekan kuat secara lateral, tersusun oleh tiga setengah sampai empat putaran cangkang, empat sampai lima kamar pada putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada sisi spiral curved sampai radial, umbilicus lebar dan dalam, aperture interiomarginal, umbilical, high arched, ditutupi oleh semacam gigi.
Globigerinoides immaturus LEROY
Cangkang trochospiral, equatorial periphery menggelembung, dinding cangkang berpori Kamar membulat tersusun dalam tiga setengah putaran, tiga kamar putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada posisi spiral melengkung, pada sisi umbilicus tertekan melingkar, aperture primer interiomarginal - umbilical, pada kamar terakhir terdapat aperture sekunder.
Globigerinoides trilobus REUSS
Cangkang trochospiral biconvex, bagian tepi membundar, dinding cangkang berpori dengan permukaan berlubang, kamar spherical tersusun dalam tiga putaran, sutura pada posisi spiral berbentuk melengkung dan tertekan, aperture primer interiomarginal, pada umbilicus membentuk busur yang rendah yang dibatasi bibir umbilicus rendah.
Globigerina nepenthes TODD
Cangkang trochospiral rendah, kompak, peripheral equatornya agak lobulate, kecuali pada bagian akhir, sumbu perpheralnya membulat, dinding berpori dengan lipatan kecil sekitar umbilical, kamar menggembung, kamar terakhir menonjol, terletak tiga setengah kali putaran dengan kamar ke empat dan ke lima dari putaran terakhi, sutura pada sisi spiral agak melengkung, tertekan, diatas umbilical hampir radial, tertekan, umbilicus dangkal dan menyempit, aperture interiomarginal, umbilical, sebuah lengkungan yang hampir membundar, dibatasi oleh sebuah putaran yang mengarah ke tepi atas dengan jelas.
Globigerinoides fistulosus (SCHUBERT)
cangkang trochospiral, biconvex, sisi equatorial peripherylobulate lobulate, dinding cangkang pada umumnya permukaannya berpori kasar, kamar spherical, kecuali satu atau dua kamar terakhir elongate, menyerupai sack (kantung), tersusun atas tiga putaran, tiga setengah sampai empat kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah dengan cepat, sutura pada sisi spiral curved, pada sisi umbilical radial, aperture primer interiomarginal, umbilical, dengan bukaan yang tidak simetris disertai lip atau rim, aperture sekunder sutural diatas sutura kamar berikutnya.
Globorotalia menardii D’ORBIGNY
Cangkang trochospiral sangat rendah, biconvex, equatorial periphery lobulate, periphery axial dengan jelas oleh keel, dinding cangkang berpori, permukaan pada kamar awal sedikit rugose dekat pundak, kemudian menghalus, kamar menekan dengan kuat, terdiri dari tiga putaran, lima sampai tujuh kamar pada putaran terakhir tumbuh secara tetap ukurannya, sutura pada bagian dorsal spiral melengkung rendah, letaknya tinggi, pada bagian umbilical berbentuk radial sampai melengkung rendah, tertekan, umbilicus hampir lebar, aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, celah yang rendah dibatasi oleh bibir yang rendah
Pulleniatina primalis BANNER & BLOW
Cangkang trochospiral rendah sampai sedang, peripheral equatorial lobulate, sumbu perpheralnya membulat luas, kamar sub-spherical, tersusun dalam tiga putaran, lima kamar pada putaran terakhir ukurannya membesar secara regular, kecuali kamar terakhir yang secara tiba-tiba menekuk karena penyimpangan putarannya, sutura pada sisi spiral melengkung jelas, tertekan, pada sisi umbilical hampir radial, tertekan, umbilicus tertutup oleh kamar terakhir, aperture interiomarginal, ekstraumbilical-umbilical, lebar, berbusur rendah sepanjang dasar kamar terakhir, tidak mencapai peripheral putaran sebelumnya, atasnya dibatasi oleh suatu hyalin rim.
Sphaerodinella subdehiscens BLOW
Cangkang trochospiral rendah, kompak, sisi equatorial agak lobulate, sisi sumbu bulat, dinding kamar perforate, tertutup oleh lapisan kedua, permukaan dindingnya halus dan glassy, kamar sub-globular samapi radially-elongate, terdiri dari tiga putaran, tiga kamar pada putaran terakhir bertambah ukurannya secara perlahan, sutura lurus pada sisi spiral maupun umbilical, tertekan, aperture primer interiomarginal, umbilical, dengan lengkungan yang rendah pada permukaannya yang halus dan tebal.
Globigerinoides extremus BOLLI
Cangkang trochospiral tinggi, equatorial periphery lobulate, sumbu periphey membulat. Dinding cangkang umumnya berpori, permukaan berbintil. Kamar kamar pada putaran terakhir terkompres secara lateral, tersusun tiga sampai empat putaran, empat kamar pada putaran terakhir bertambah ukurannya. Sutura melengkung hinggga oblique pada sisi spiral dan umbilical. Umbilicus sempit. Aperture primer interiomarginal, umbilical, dibatasi oleh rim.
Globorotalia menardii D’ORBIGNY
Cangkang trochospiral sangat rendah, biconvex, equatorial periphery lobulate, periphery axial dengan jelas oleh keel, dinding cangkang berpori, permukaan pada kamar awal sedikit rugose dekat pundak, kemudian menghalus, kamar menekan dengan kuat, terdiri dari tiga putaran, lima sampai tujuh kamar pada putaran terakhir tumbuh secara tetap ukurannya, sutura pada bagian dorsal spiral melengkung rendah, letaknya tinggi, pada bagian umbilical berbentuk radial sampai melengkung rendah, tertekan, umbilicus hampir lebar, aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, celah yang rendah dibatasi oleh bibir yang rendah
Globigerinoides immaturus LEROY
Cangkang trochospiral, equatorial periphery menggelembung, dinding cangkang berpori Kamar membulat tersusun dalam tiga setengah putaran, tiga kamar putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada posisi spiral melengkung, pada sisi umbilicus tertekan melingkar, aperture primer interiomarginal - umbilical, pada kamar terakhir terdapat aperture sekunder.
Globorotalia merotumida
Globoquadrina altispira (CHUSMAN and JARVIS)
Cangkang trochospiral menengah sampai tinggi, equatorial periphery lobulate, dengan dorso-peripheral shoulders, dinding berpori kasar, permukaan pitted kadang hispid, kamar pada bagian berikutnya spherical, dimana kamar terakhir tertekan kuat secara lateral, tersusun oleh tiga setengah sampai empat putaran cangkang, empat sampai lima kamar pada putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada sisi spiral curved sampai radial, umbilicus lebar dan dalam, aperture interiomarginal, umbilical, high arched, ditutupi oleh semacam gigi.
Globigerina bulloides
Globorotalia pseudopima
Globigerinoides obliquus BOLLI
Cangkang trochospiral rendah, biconvex asimetris, sisi equatorial lobulate, sisi axial membulat, dinding berlubang dan permukaan berduri, kamar spherical tersusun oleh tiga setengah putaran cangkang dengan 3 kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah dengan cepat, kamar terakhir tertekan kearah lateral-auxing, sutura pada sisi spiral agak melengkung, pada sisi umbilicus radial, aperture primer interiomarginal umbilical, low -medium arched, pada kamar terakhir terletak aperture tambahan pada sutura.
Globigerinoides sacculiferus (BRADY)
Cangkang trochospiral, equatorial periphery menggelembung, dinding cangkang berpori, kamar membundar, tersusun dalam tiga setengah putaran, tiga kamar putaran terakhir bertambah ukurannya, kamar terakhir agak memanjang, lonjong menyerupai kantung, sutura pada posisi spiral melengkung, pada sisi umbilicus tertekan melingkar, aperture primer interiomarginal - umbilical, pada kamar terakhir terdapat aperture sekunder pada sutura.
Globorotalia pseudomiocenica BOLLI and BERMUDEZ
Cangkang trochospiral sangat rendah, sisi spiral flat sampai agak convex, sisi umbilical convex kuat, equatorial periphery lobulate, sumbu periphery acute dengan kell yang tipis tetapi jelas. Dinding cangkang berpori, permukaan pada kamar awal agak kasar, tetapi pada kamar terakhir halus. Kamar angular, tertekan, terdiri dari tiga putaran, lima sampai enam kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah. Sutura sisi spiral melengkung, pada sisi umbilical melengkung. Umbilicus sempit. Aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, celah yang rendah dibatasi oleh rim atau bibir yang halus.
Globigerinoides ruber BOLLI
cangkang trochospiral, sisi equatorial periphery lobulate, membulat, dinding cangkang pada umumnya permukaannya berpori dan sedikit, tersusun atas tiga sampai empat putaran, tiga kamar pada aputaran terakhir ukurannya bertambah secara perlahan, sutura pada sisi spiral sub radial sampai radial, agak melengkung, aperture interiomarginal, umbilicus, dibatasi oleh rim, aperture sekunder sutural berlawanan dengan aperture primer
Pulleniatina obliquiloculata (PARKER and JONES)
Cangkang globose, fase berikutnya planispiral, fase terakhir streptospiral, involute, peripheral equatorial lobulate, dinding berpori halus, dinding pada putaran berikutnya pada sisi spiral berpori kasar dan tebal, permukaannya halus kecuali pada dinding dekat aperture, kamar sub-spherical, tersusun dalam tiga putaran, putaran terakhir terdiri dari empat setengah sampai lima kamar, sutura pada sisi spiral curved sampai radial, tertekan,umbilicus tertutup oleh kamar terakhir, aperture agak medium samapi high arch sepanjang kamar terakhir dibatasi oleh suatu hyalin rim.
Globigerinoides immaturus LEROY
Cangkang trochospiral, equatorial periphery menggelembung, dinding cangkang berpori Kamar membulat tersusun dalam tiga setengah putaran, tiga kamar putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada posisi spiral melengkung, pada sisi umbilicus tertekan melingkar, aperture primer interiomarginal - umbilical, pada kamar terakhir terdapat aperture sekunder
Globigerinoides trilobus REUSS
Cangkang trochospiral biconvex, bagian tepi membundar, dinding cangkang berpori dengan permukaan berlubang, kamar spherical tersusun dalam tiga putaran, sutura pada posisi spiral berbentuk melengkung dan tertekan, aperture primer interiomarginal, pada umbilicus membentuk busur yang rendah yang dibatasi bibir umbilicus rendah.
Pulleniatina primalis BANNER & BLOW
Cangkang trochospiral rendah sampai sedang, peripheral equatorial lobulate, sumbu perpheralnya membulat luas, kamar sub-spherical, tersusun dalam tiga putaran, lima kamar pada putaran terakhir ukurannya membesar secara regular, kecuali kamar terakhir yang secara tiba-tiba menekuk karena penyimpangan putarannya, sutura pada sisi spiral melengkung jelas, tertekan, pada sisi umbilical hampir radial, tertekan, umbilicus tertutup oleh kamar terakhir, aperture interiomarginal, ekstraumbilical-umbilical, lebar, berbusur rendah sepanjang dasar kamar terakhir, tidak mencapai peripheral putaran sebelumnya, atasnya dibatasi oleh suatu hyalin rim.
Hastigerina aequilateralis CUSHMAN & JARVIS
Cangkang planispiral, pada tahap awal trochospiral sangat rendah, sisi equatorial lobulate, sisi axial membundar, dinding kamar permukaannya halus dan berpori kasar, kamar inflated, sub-globular agak saling melingkupi, berkisar tiga putaran, pada putaran kamar terakhir terdapat empat sampai lima kamar, sutura pada bagian umbilical radial dan tertekan, aperture interiomarginal dan ekstraumbilical, sangat dangkal dan dikelilingi bibir dan rim yang kurang jelas.
Globorotalia merotumida BLOW and BANNER
Pulleniatina primalis BANNER & BLOW
Cangkang trochospiral rendah sampai sedang, peripheral equatorial lobulate, sumbu perpheralnya membulat luas, kamar sub-spherical, tersusun dalam tiga putaran, lima kamar pada putaran terakhir ukurannya membesar secara regular, kecuali kamar terakhir yang secara tiba-tiba menekuk karena penyimpangan putarannya, sutura pada sisi spiral melengkung jelas, tertekan, pada sisi umbilical hampir radial, tertekan, umbilicus tertutup oleh kamar terakhir, aperture interiomarginal, ekstraumbilical-umbilical, lebar, berbusur rendah sepanjang dasar kamar terakhir, tidak mencapai peripheral putaran sebelumnya, atasnya dibatasi oleh suatu hyalin rim.
Pulleniatina obliquiloculata (PARKER and JONES)
Cangkang globose, fase berikutnya planispiral, fase terakhir streptospiral, involute, peripheral equatorial lobulate, dinding berpori halus, dinding pada putaran berikutnya pada sisi spiral berpori kasar dan tebal, permukaannya halus kecuali pada dinding dekat aperture, kamar sub-spherical, tersusun dalam tiga putaran, putaran terakhir terdiri dari empat setengah sampai lima kamar, sutura pada sisi spiral curved sampai radial, tertekan,umbilicus tertutup oleh kamar terakhir, aperture agak medium samapi high arch sepanjang kamar terakhir dibatasi oleh suatu hyalin rim.
Globigerinoides ruber BOLLI
cangkang trochospiral, sisi equatorial periphery lobulate, membulat, dinding cangkang pada umumnya permukaannya berpori dan sedikit, tersusun atas tiga sampai empat putaran, tiga kamar pada aputaran terakhir ukurannya bertambah secara perlahan, sutura pada sisi spiral sub radial sampai radial, agak melengkung, aperture interiomarginal, umbilicus, dibatasi oleh rim, aperture sekunder sutural berlawanan dengan aperture primer
Globigerinoides trilobus REUSS
Cangkang trochospiral biconvex, bagian tepi membundar, dinding cangkang berpori dengan permukaan berlubang, kamar spherical tersusun dalam tiga putaran, sutura pada posisi spiral berbentuk melengkung dan tertekan, aperture primer interiomarginal, pada umbilicus membentuk busur yang rendah yang dibatasi bibir umbilicus rendah.
Globigerinoides extremus BOLLI
Cangkang trochospiral tinggi, equatorial periphery lobulate, sumbu periphey membulat. Dinding cangkang umumnya berpori, permukaan berbintil. Kamar kamar pada putaran terakhir terkompres secara lateral, tersusun tiga sampai empat putaran, empat kamar pada putaran terakhir bertambah ukurannya. Sutura melengkung hinggga oblique pada sisi spiral dan umbilical. Umbilicus sempit. Aperture primer interiomarginal, umbilical, dibatasi oleh rim.
Globigerinoides sacculiferus (BRADY)
Cangkang trochospiral, equatorial periphery menggelembung, dinding cangkang berpori, kamar membundar, tersusun dalam tiga setengah putaran, tiga kamar putaran terakhir bertambah ukurannya, kamar terakhir agak memanjang, lonjong menyerupai kantung, sutura pada posisi spiral melengkung, pada sisi umbilicus tertekan melingkar, aperture primer interiomarginal - umbilical, pada kamar terakhir terdapat aperture sekunder pada sutura.
Globorotalia pseudopima
Globorotalia tosaensis TAKANAYAGI and SAITO
Cangkang trochospiral sangat rendah, pada sisi umbilical convex, equatorial periphery circular sampai lobulate, dinding cangkang berpori, permukaan kamar berikutnya pada sisi umbilical rugose (berduri/kasar), kamar sub-inflated tertekan secara lateral, tersusun oleh tiga sampai tiga setengah putaran, empat sampai lima kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah dengan cepat, sutura pada sisi spiral curved, agak kurang jelas, pada sisi umbilical radial, radial, umbilicus agak dalam sampai agak lebar, aperture interiomarginal, bentuk umbilical sampai ekstraumbilical, melengkung sedang - tinggi, dikelilingi bibir halus.
Globigerinoides obliquus BOLLI
Cangkang trochospiral rendah, biconvex asimetris, sisi equatorial lobulate, sisi axial membulat, dinding berlubang dan permukaan berduri, kamar spherical tersusun oleh tiga setengah putaran cangkang dengan 3 kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah dengan cepat, kamar terakhir tertekan kearah lateral-auxing, sutura pada sisi spiral agak melengkung, pada sisi umbilicus radial, aperture primer interiomarginal umbilical, low -medium arched, pada kamar terakhir terletak aperture tambahan pada sutura.
Globorotalia pseudomiocenica BOLLI and BERMUDEZ
Cangkang trochospiral sangat rendah, sisi spiral flat sampai agak convex, sisi umbilical convex kuat, equatorial periphery lobulate, sumbu periphery acute dengan kell yang tipis tetapi jelas. Dinding cangkang berpori, permukaan pada kamar awal agak kasar, tetapi pada kamar terakhir halus. Kamar angular, tertekan, terdiri dari tiga putaran, lima sampai enam kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah. Sutura sisi spiral melengkung, pada sisi umbilical melengkung. Umbilicus sempit. Aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, celah yang rendah dibatasi oleh rim atau bibir yang halus.
Globigerina riveroae BOLLI and BERMUDEZ
Cangkang trochospiral sedang sampai rendah, lebih lebar daripada tingginya, equator periphery lobulate kuat, sumbu perpheralnya membulat. Dinding berpori, permukaan berbintil. Kamar sferikal, tersusun oleh tiga setengah putaran, empat kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah dengan cepat. Sutura pada sisi spiral dan umbilical radial, tertekan. Umbilicus lebar dan dalam. Aperture interiomarginal, umbilical.
Globigerinoides ruber BOLLI
cangkang trochospiral, sisi equatorial periphery lobulate, membulat, dinding cangkang pada umumnya permukaannya berpori dan sedikit, tersusun atas tiga sampai empat putaran, tiga kamar pada aputaran terakhir ukurannya bertambah secara perlahan, sutura pada sisi spiral sub radial sampai radial, agak melengkung, aperture interiomarginal, umbilicus, dibatasi oleh rim, aperture sekunder sutural berlawanan dengan aperture primer
Globigerinoides trilobus REUSS
Cangkang trochospiral biconvex, bagian tepi membundar, dinding cangkang berpori dengan permukaan berlubang, kamar spherical tersusun dalam tiga putaran, sutura pada posisi spiral berbentuk melengkung dan tertekan, aperture primer interiomarginal, pada umbilicus membentuk busur yang rendah yang dibatasi bibir umbilicus rendah.
Globorotalia tumida (BRADY)
Cangkang trochospiral rendah, sisi spiral lebih convex daripada sisi umbilical, tertekan, equator periphery subcircular sampai agal lobulate pada tahap akhir, sumbu peripheral acute dengan massive keel. Dinding berpori kecil, permukaannya halus kecuali kamar awal pada putaran terakhir dan batas umbilicalm pada kamar terakhir, pustulose. Kamar tertekan, tersusun dalam tiga putaran, enam kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah. Sutura pada sisi spiral melengkung halus, kemudian tajam. Umbilicus sempit dan dalam. Aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, high arch.
Orbulina universa D’ORBIGNY
Cangkang globular, dinding berpori, kamar spherical, bulatan terakhir secara keseluruhan menutupi bagian pertama dari cangkang yang umumnya kecil, aperture primer interiomarginal umbilical pada tingkat awal.
Globorotalia tosaensis TAKANAYAGI and SAITO
Cangkang trochospiral sangat rendah, pada sisi umbilical convex, equatorial periphery circular sampai lobulate, dinding cangkang berpori, permukaan kamar berikutnya pada sisi umbilical rugose (berduri/kasar), kamar sub-inflated tertekan secara lateral, tersusun oleh tiga sampai tiga setengah putaran, empat sampai lima kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah dengan cepat, sutura pada sisi spiral curved, agak kurang jelas, pada sisi umbilical radial, radial, umbilicus agak dalam sampai agak lebar, aperture interiomarginal, bentuk umbilical sampai ekstraumbilical, melengkung sedang - tinggi, dikelilingi bibir halus.
Globorotalia pseudopima BLOW and BANNER
Globorotalia miocenica PALMER
Cangkang trochospiral sangat rendah, sisi spiral flat sampai agak convex, sisi umbilical convex kuat, equatorial periphery ciccular pada kamar awal sampai agak lobulate pada fase berikutnya, sumbu periphery acute dengan kell yang jelas. Dinding cangkang berpori halus, permukaan daerah umbilical pada kamar-kamar awal agak rugose, pada kamar terakhir halus. Kamar angular, enam sampai tujuh kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah. Sutura sisi spiral melengkung, pada sisi umbilical melengkung. Umbilicus sempit. Aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, celah yang rendah dibatasi oleh rim atau bibir yang halus.
Globoquadrina dehiscens (CHAPMAN, PARR and COLLINS)
Cangkang trochospiral rendah, pada sisi spiral berberntuk flat, pada sisi umbilical convex, equatorial periphery lobulate, subquadrate; sumbu periphery membulat dengan dorso-peripheral shoulders. Dinding berpori , permukaan pitted, rugose di dekat pundak kamar. Kamar pada tahap muda spherical, dimana kamar terakhir tertekan secara lateral dengan pundak subrounded samapi angular, tersusun oleh empat putaran, empat kamar pada putaran terakhir ukuran dan tingginya bertambah dengan cepat. Sutura pada sisi spiral curved sampai radial, pada sisi umbilikal radial, tertekan. Umbilicus lebar dan dalam. Aperture interiomarginal, umbilical, low-medium arch, ditutupi oleh semacam gigi elongate.
Globigerina bulloides BLOW and BANNER
Globorotalia menardii D’ORBIGNY
Cangkang trochospiral sangat rendah, biconvex, equatorial periphery lobulate, periphery axial dengan jelas oleh keel, dinding cangkang berpori, permukaan pada kamar awal sedikit rugose dekat pundak, kemudian menghalus, kamar menekan dengan kuat, terdiri dari tiga putaran, lima sampai tujuh kamar pada putaran terakhir tumbuh secara tetap ukurannya, sutura pada bagian dorsal spiral melengkung rendah, letaknya tinggi, pada bagian umbilical berbentuk radial sampai melengkung rendah, tertekan, umbilicus hampir lebar, aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, celah yang rendah dibatasi oleh bibir yang rendah
Globorotalia merotumida BLOW and BANNER
Globorotalia miocenica PALMER
Cangkang trochospiral sangat rendah, sisi spiral flat sampai agak convex, sisi umbilical convex kuat, equatorial periphery ciccular pada kamar awal sampai agak lobulate pada fase berikutnya, sumbu periphery acute dengan kell yang jelas. Dinding cangkang berpori halus, permukaan daerah umbilical pada kamar-kamar awal agak rugose, pada kamar terakhir halus. Kamar angular, enam sampai tujuh kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah. Sutura sisi spiral melengkung, pada sisi umbilical melengkung. Umbilicus sempit. Aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, celah yang rendah dibatasi oleh rim atau bibir yang halus.
Globigerinoides immaturus LEROY
Cangkang trochospiral, equatorial periphery menggelembung, dinding cangkang berpori Kamar membulat tersusun dalam tiga setengah putaran, tiga kamar putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada posisi spiral melengkung, pada sisi umbilicus tertekan melingkar, aperture primer interiomarginal - umbilical, pada kamar terakhir terdapat aperture sekunder.
Globigerinoides trilobus REUSS
Cangkang trochospiral biconvex, bagian tepi membundar, dinding cangkang berpori dengan permukaan berlubang, kamar spherical tersusun dalam tiga putaran, sutura pada posisi spiral berbentuk melengkung dan tertekan, aperture primer interiomarginal, pada umbilicus membentuk busur yang rendah yang dibatasi bibir umbilicus rendah.
Globoquadrina altispira (CHUSMAN and JARVIS)
Cangkang trochospiral menengah sampai tinggi, equatorial periphery lobulate, dengan dorso-peripheral shoulders, dinding berpori kasar, permukaan pitted kadang hispid, kamar pada bagian berikutnya spherical, dimana kamar terakhir tertekan kuat secara lateral, tersusun oleh tiga setengah sampai empat putaran cangkang, empat sampai lima kamar pada putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada sisi spiral curved sampai radial, umbilicus lebar dan dalam, aperture interiomarginal, umbilical, high arched, ditutupi oleh semacam gigi.
Orbulina universa D’ORBIGNY
Cangkang globular, dinding berpori, kamar spherical, bulatan terakhir secara keseluruhan menutupi bagian pertama dari cangkang yang umumnya kecil, aperture primer interiomarginal umbilical pada tingkat awal.
Globigerina venezuelana HEDBERG
Cangkang trochospiral rendah - sedang, equator periphery lobulate. Dinding tebal, berpori, permukaannya halus, kecuali pada tepi umbilikal dindingnya rugositis (berduri) atau pendek, spine tebal. Kamar spherical, kamar-kamar pada putaran terakhir tertekan kuat secara lateral, tersususn atas tiga setengah putaran cangkang dengan empat kamar pada putaran terakhir yang meningkat ukurannya, kamar terakhir ukurannya berkurang. Sutura pada sisi spiral berbentuk melengkung hingga radial, umbilicus agak sempit, segitiga pada specimen yang normal. Aperture interiomarginal, umbilical, melengkung agak melingkar, dibatasi tepian yang jelas di bagian atas.
Sphaeroidinellopsis seminulina SCHWAGER
Globigerinoides trilobus REUSS
Cangkang trochospiral biconvex, bagian tepi membundar, dinding cangkang berpori dengan permukaan berlubang, kamar spherical tersusun dalam tiga putaran, sutura pada posisi spiral berbentuk melengkung dan tertekan, aperture primer interiomarginal, pada umbilicus membentuk busur yang rendah yang dibatasi bibir umbilicus rendah.
Globigerinoides ruber BOLLI
cangkang trochospiral, sisi equatorial periphery lobulate, membulat, dinding cangkang pada umumnya permukaannya berpori dan sedikit, tersusun atas tiga sampai empat putaran, tiga kamar pada aputaran terakhir ukurannya bertambah secara perlahan, sutura pada sisi spiral sub radial sampai radial, agak melengkung, aperture interiomarginal, umbilicus, dibatasi oleh rim, aperture sekunder sutural berlawanan dengan aperture primer
Globoquadrina altispira (CHUSMAN and JARVIS)
Cangkang trochospiral menengah sampai tinggi, equatorial periphery lobulate, dengan dorso-peripheral shoulders, dinding berpori kasar, permukaan pitted kadang hispid, kamar pada bagian berikutnya spherical, dimana kamar terakhir tertekan kuat secara lateral, tersusun oleh tiga setengah sampai empat putaran cangkang, empat sampai lima kamar pada putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada sisi spiral curved sampai radial, umbilicus lebar dan dalam, aperture interiomarginal, umbilical, high arched, ditutupi oleh semacam gigi.
Sphaerodinella subdehiscens BLOW
Cangkang trochospiral rendah, kompak, sisi equatorial agak lobulate, sisi sumbu bulat, dinding kamar perforate, tertutup oleh lapisan kedua, permukaan dindingnya halus dan glassy, kamar sub-globular samapi radially-elongate, terdiri dari tiga putaran, tiga kamar pada putaran terakhir bertambah ukurannya secara perlahan, sutura lurus pada sisi spiral maupun umbilical, tertekan, aperture primer interiomarginal, umbilical, dengan lengkungan yang rendah pada permukaannya yang halus dan tebal.
Globigerina riveroae BOLLI and BERMUDEZ
Cangkang trochospiral sedang sampai rendah, lebih lebar daripada tingginya, equator periphery lobulate kuat, sumbu perpheralnya membulat. Dinding berpori, permukaan berbintil. Kamar sferikal, tersusun oleh tiga setengah putaran, empat kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah dengan cepat. Sutura pada sisi spiral dan umbilical radial, tertekan. Umbilicus lebar dan dalam. Aperture interiomarginal, umbilical.
Globorotalia tumida (BRADY)
Cangkang trochospiral rendah, sisi spiral lebih convex daripada sisi umbilical, tertekan, equator periphery subcircular sampai agal lobulate pada tahap akhir, sumbu peripheral acute dengan massive keel. Dinding berpori kecil, permukaannya halus kecuali kamar awal pada putaran terakhir dan batas umbilicalm pada kamar terakhir, pustulose. Kamar tertekan, tersusun dalam tiga putaran, enam kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah. Sutura pada sisi spiral melengkung halus, kemudian tajam. Umbilicus sempit dan dalam. Aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, high arch.
Globigerinoides immaturus LEROY
Cangkang trochospiral, equatorial periphery menggelembung, dinding cangkang berpori Kamar membulat tersusun dalam tiga setengah putaran, tiga kamar putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada posisi spiral melengkung, pada sisi umbilicus tertekan melingkar, aperture primer interiomarginal - umbilical, pada kamar terakhir terdapat aperture sekunder.
Globigerinoides conglobatus BRADY
Cangkang trochospiral, subglobular sampai subquadrate, equatorial periphery lobulate, sumbu periphery rounded. Dinding cangkang berpori kasar, tebal, permukaaan berbintil. Kamar subsferikal, kemudian tertekan kuat, sampai inflated, tersusun dalam empat putaran, tiga sampai tiga setengah kamar putaran terakhir bertambah ukurannya secara cepat atau lambat. Sutura pada posisi spiral obscure, pada sisi umbilical radial. umbilicus sempit sampai tertutup. Aperture primer interiomarginal - umbilical, dibatasi oleh rim, apertur sekunder sutural.
Globorotalia pseudomiocenica BOLLI and BERMUDEZ
Cangkang trochospiral sangat rendah, sisi spiral flat sampai agak convex, sisi umbilical convex kuat, equatorial periphery lobulate, sumbu periphery acute dengan kell yang tipis tetapi jelas. Dinding cangkang berpori, permukaan pada kamar awal agak kasar, tetapi pada kamar terakhir halus. Kamar angular, tertekan, terdiri dari tiga putaran, lima sampai enam kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah. Sutura sisi spiral melengkung, pada sisi umbilical melengkung. Umbilicus sempit. Aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, celah yang rendah dibatasi oleh rim atau bibir yang halus.
Orbulina universa D’ORBIGNY
Cangkang globular, dinding berpori, kamar spherical, bulatan terakhir secara keseluruhan menutupi bagian pertama dari cangkang yang umumnya kecil, aperture primer interiomarginal umbilical pada tingkat awal.
Globorotalia pseudopima
Globoquadrina altispira (CHUSMAN and JARVIS)
Cangkang trochospiral menengah sampai tinggi, equatorial periphery lobulate, dengan dorso-peripheral shoulders, dinding berpori kasar, permukaan pitted kadang hispid, kamar pada bagian berikutnya spherical, dimana kamar terakhir tertekan kuat secara lateral, tersusun oleh tiga setengah sampai empat putaran cangkang, empat sampai lima kamar pada putaran terakhir bertambah ukurannya, sutura pada sisi spiral curved sampai radial, umbilicus lebar dan dalam, aperture interiomarginal, umbilical, high arched, ditutupi oleh semacam gigi.
Globorotalia menardii D’ORBIGNY
Cangkang trochospiral sangat rendah, biconvex, equatorial periphery lobulate, periphery axial dengan jelas oleh keel, dinding cangkang berpori, permukaan pada kamar awal sedikit rugose dekat pundak, kemudian menghalus, kamar menekan dengan kuat, terdiri dari tiga putaran, lima sampai tujuh kamar pada putaran terakhir tumbuh secara tetap ukurannya, sutura pada bagian dorsal spiral melengkung rendah, letaknya tinggi, pada bagian umbilical berbentuk radial sampai melengkung rendah, tertekan, umbilicus hampir lebar, aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, celah yang rendah dibatasi oleh bibir yang rendah
Orbulina universa D’ORBIGNY
Cangkang globular, dinding berpori, kamar spherical, bulatan terakhir secara keseluruhan menutupi bagian pertama dari cangkang yang umumnya kecil, aperture primer interiomarginal umbilical pada tingkat awal.
Globorotalia tumida (BRADY)
Cangkang trochospiral rendah, sisi spiral lebih convex daripada sisi umbilical, tertekan, equator periphery subcircular sampai agal lobulate pada tahap akhir, sumbu peripheral acute dengan massive keel. Dinding berpori kecil, permukaannya halus kecuali kamar awal pada putaran terakhir dan batas umbilicalm pada kamar terakhir, pustulose. Kamar tertekan, tersusun dalam tiga putaran, enam kamar pada putaran terakhir ukurannya bertambah. Sutura pada sisi spiral melengkung halus, kemudian tajam. Umbilicus sempit dan dalam. Aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, high arch.
Globigerina nepenthes TODD
Cangkang trochospiral rendah, kompak, peripheral equatornya agak lobulate, kecuali pada bagian akhir, sumbu perpheralnya membulat, dinding berpori dengan lipatan kecil sekitar umbilical, kamar menggembung, kamar terakhir menonjol, terletak tiga setengah kali putaran dengan kamar ke empat dan ke lima dari putaran terakhi, sutura pada sisi spiral agak melengkung, tertekan, diatas umbilical hampir radial, tertekan, umbilicus dangkal dan menyempit, aperture interiomarginal, umbilical, sebuah lengkungan yang hampir membundar, dibatasi oleh sebuah putaran yang mengarah ke tepi atas dengan jelas.
Globorotalia plesiotumida BLOW & BANNER
Cangkang trochospiral sangat rendah, biconvex tidak simetris, tertekan, periphery, equator lobulate, sumbu peripheral lancip dengan keel yang jelas, dinding berpori kecil, kebanyakan permukaannya halus, permukaan yang kasar berkembang pada dinding tiga kamar pertama, kamar tertekan, tersusun dalam tiga putaran, 5 - 6 kamar pada putaran terakhir ukurannya membesar secara regular, sutura pada sisi spiral melengkung, bagian terakhirnya hampir sub radial, pada sisi umbilical radial - sedikit melengkung dan tertekan, umbilicus sempit dan dalam, aperture interiomarginal, ekstraumbilical sampai umbilical, berbusur agak rendah, dibatasi oleh bibir tebal.
BENTONIK
Amphistegina
Cangkang relatif besar , lebih dari 10 kamar pada setiap putaran, aperture tipis (slit) permukaan cangkang tidak beraturan, cangkang trochospiral, dinding cangkang berpori.
Bolivina goesii CUSHMAN
Cangkang sagitate-lanccolate dan gepeng, hyalin, susunan kamar biserial, aperture memanjang, memiliki gigi.
Cassidulina
Cangkang planisipiral, bentuk relatif kecil, involute, aperture terminal.
Cibicides
Cangkang biconvex, bagian tepi acute dengan keel yang tipis, trochospiral, tersusun oleh 3 putaran dengan 11 - 13 kamar pada putaran terakhir, dinding kamar tebal, berpori halus, aperture interiomarginal.
Dentalina
Bentuk cangkang melengkung, susunan kamar triserial terdiri atas beberapa kamar, dinding cangkang berpori halus, letak aperture terminal berbentuk radiate.
Elphidium
Cangkang planispiral dihiasi oleh sutura yang berupa "Retral procecesses", cangkang tersusun oleh beberapa kamar, dinding cangkang berpori.
Elphidium discoidale D’ORBIGNY
Cangkang planispiral, simetri bilateral, trochoid, bagian sisi memipih tajam, dinding cangkang berpori dengan komposisi calcareous, dihiasi oleh sutura yang berupa "Retral procecesses", cangkang tersusun oleh beberapa kamar, aperture sub-terminal, kosentris pada kamar pertama.
Elphidium incsertum D’ORBIGNY
Cangkang planispiral, simetri bilatreal, involute, hyalin. Kamar banyak, agak pipih.. Apertur berupa sebuah lubang atau sebaris pori-pori pada permukaan septa.
Globobulimina
Kamar saling melingkupi dengan kamar - kamar sebelumnya, aperture "Loop shape" tanpa leher, susunan triserial, cangkang tersusun oleh beberapa kamar, dinding cangkang berpori.
Gyroidina
Cangkang sirkular, trocosphiral, planoconvex, tersusun oleh 3 - 4 kamar pada setiap putaran. Kenampakan dorsal saling melengkapi, dinding cangkang halus, mengkilap, umbilicus lebar, aperture interiomarginal rendah, umbilical extraumbilical.
Nodosaria
Bentuk cangkang melengkung, susunan kamar uniserial terdiri atas beberapa kamar, dinding cangkang berpori halus, sutura relatif tegak lurus kamar, letak aperture terminal berbentuk radiate.
Nonion grateloupi D’ORBIGNY
Cangkang memanjang, hyalin, berpori halus, susunan kamar triserial, aperture terminal, virgulite.
Planulina
Cangkang Planoconvex - concavconvex, evolute, tersusun oleh 6 - 7 kamar pada putaran yang terakhir, dinding cangkang berpori halus, aperture interiomarginal, tipis (slit).
Pleurosomella
Aperture terminal yang dibatasi oleh dua gigi yang terletak saling berlawanan, cangkang uniserial, cangkang tersusun oleh beberapa kamar, dinding cangkang berpori.
Robulus Sp
Cangkang palnispiral, lenticular, simetri bilateral, involute, dengan komposisi hyalin, coiled test , kamar polythalamus, pada sisi samping berbentuk segitiga, aperture berupa lubang yang terletak pada puncak luar dari permukaan septa (top of spertural face), pada bentuk yang tua bulat, pada bentuk muda radiate.
Siphonina
Cangkang lenticular, trochospiral, biconvex, bagian tepi acute dengan keel yang tipis, terdiri atas 5 kamar pada putaran yang terakhir, dinding cangkang berpori halus - kasar, aperture elips dibatasi dengan lip
Uvigerina
Cangkang elongate, fisiform, susunan kamar triserial dengan 2 putaran yang membesar secara nerangsur, dinding cangkang berpori halus, aperture terminal pada leher yang lebar.
Uvigerina flintii CUSHMAN
Cangkang fusiform, elongate, melintang pada irisan melintang, dinding cangkang hyalin atau calcareous, berpori halus, susunan kamar triserial dengan 2 putaran yang membesar secara berangsur, aperture terminal menonjol, melingkar dengan leher dan bibir pada leher yang lebar, bergigi spiral.
Kamis, 14 Mei 2009
Baba
Pembentukan batubara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batubara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batubara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk.
Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batubara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di pelbagai belahan bumi lain.
Materi Pembentuk Batubara
Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batubara dari perioda ini.
Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batubara dari perioda ini.
Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.
Kelas dan Jenis Batubara
Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.
Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.
Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batubara yang paling banyak ditambang di Australia.
Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
Lignit atau batubara coklat adalah batubara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya.
Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.
Pembentukan Batubara
Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara disebut dengan istilah pembatubaraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:
Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.
Batubara di Indonesia
Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batubara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batubara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.
Batubara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batubara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batubara Miosen. Sebaliknya, endapan batubara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batubara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan.[1]
Endapan Batubara Eosen
Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai sekitar Tersier Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di Sumatera dan Kalimantan.
Ekstensi berumur Eosen ini terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari sebelah barat Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera. Dari batuan sedimen yang pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan berlangsung mulai terjadi pada Eosen Tengah. Pemekaran Tersier Bawah yang terjadi pada Paparan Sunda ini ditafsirkan berada pada tatanan busur dalam, yang disebabkan terutama oleh gerak penunjaman Lempeng Indo-Australia.[2] Lingkungan pengendapan mula-mula pada saat Paleogen itu non-marin, terutama fluviatil, kipas aluvial dan endapan danau yang dangkal.
Di Kalimantan bagian tenggara, pengendapan batubara terjadi sekitar Eosen Tengah - Atas namun di Sumatera umurnya lebih muda, yakni Eosen Atas hingga Oligosen Bawah. Di Sumatera bagian tengah, endapan fluvial yang terjadi pada fasa awal kemudian ditutupi oleh endapan danau (non-marin).[2] Berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan bagian tenggara dimana endapan fluvial kemudian ditutupi oleh lapisan batubara yang terjadi pada dataran pantai yang kemudian ditutupi di atasnya secara transgresif oleh sedimen marin berumur Eosen Atas.[3]
Endapan batubara Eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan berikut: Pasir dan Asam-asam (Kalimantan Selatan dan Timur), Barito (Kalimantan Selatan), Kutai Atas (Kalimantan Tengah dan Timur), Melawi dan Ketungau (Kalimantan Barat), Tarakan (Kalimantan Timur), Ombilin (Sumatera Barat) dan Sumatera Tengah (Riau).
Dibawah ini adalah kualitas rata-rata dari beberapa endapan batubara Eosen di Indonesia.Tambang Cekungan Perusahaan Kadar air total (%ar) Kadar air inheren (%ad) Kadar abu (%ad) Zat terbang (%ad) Belerang (%ad) Nilai energi (kkal/kg)(ad)
Satui Asam-asam PT Arutmin Indonesia 10.00 7.00 8.00 41.50 0.80 6800
Senakin Pasir PT Arutmin Indonesia 9.00 4.00 15.00 39.50 0.70 6400
Petangis Pasir PT BHP Kendilo Coal 11.00 4.40 12.00 40.50 0.80 6700
Ombilin Ombilin PT Bukit Asam 12.00 6.50 <8.00 36.50 0.50 - 0.60 6900
Parambahan Ombilin PT Allied Indo Coal 4.00 - 10.00 (ar) 37.30 (ar) 0.50 (ar) 6900 (ar)
(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association, 1998
Endapan Batubara Miosen
Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah - Tengah pada Paparan Sunda telah berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi transgresi marin pada kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen marin klastik yang tebal dan perselingan sekuen batugamping. Pengangkatan dan kompresi adalah kenampakan yang umum pada tektonik Neogen di Kalimantan maupun Sumatera. Endapan batubara Miosen yang ekonomis terutama terdapat di Cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan Timur), Cekungan Barito (Kalimantan Selatan) dan Cekungan Sumatera bagian selatan. Batubara Miosen juga secara ekonomis ditambang di Cekungan Bengkulu.
Batubara ini umumnya terdeposisi pada lingkungan fluvial, delta dan dataran pantai yang mirip dengan daerah pembentukan gambut saat ini di Sumatera bagian timur. Ciri utama lainnya adalah kadar abu dan belerang yang rendah. Namun kebanyakan sumberdaya batubara Miosen ini tergolong sub-bituminus atau lignit sehingga kurang ekonomis kecuali jika sangat tebal (PT Adaro) atau lokasi geografisnya menguntungkan. Namun batubara Miosen di beberapa lokasi juga tergolong kelas yang tinggi seperti pada Cebakan Pinang dan Prima (PT KPC), endapan batubara di sekitar hilir Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dan beberapa lokasi di dekat Tanjungenim, Cekungan Sumatera bagian selatan.
Tabel dibawah ini menunjukan kualitas rata-rata dari beberapa endapan batubara Miosen di Indonesia.Tambang Cekungan Perusahaan Kadar air total (%ar) Kadar air inheren (%ad) Kadar abu (%ad) Zat terbang (%ad) Belerang (%ad) Nilai energi (kkal/kg)(ad)
Prima Kutai PT Kaltim Prima Coal 9.00 - 4.00 39.00 0.50 6800 (ar)
Pinang Kutai PT Kaltim Prima Coal 13.00 - 7.00 37.50 0.40 6200 (ar)
Roto South Pasir PT Kideco Jaya Agung 24.00 - 3.00 40.00 0.20 5200 (ar)
Binungan Tarakan PT Berau Coal 18.00 14.00 4.20 40.10 0.50 6100 (ad)
Lati Tarakan PT Berau Coal 24.60 16.00 4.30 37.80 0.90 5800 (ad)
Air Laya Sumatera bagian selatan PT Bukit Asam 24.00 - 5.30 34.60 0.49 5300 (ad)
Paringin Barito PT Adaro 24.00 18.00 4.00 40.00 0.10 5950 (ad)
(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association, 1998
Sumberdaya Batubara
Potensi sumberdaya batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batubara walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi.
Di Indonesia, batubara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batubara jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori sedangkan batubara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar industri Rp. 6.200/liter).
Dari segi kuantitas batubara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batubara dan mengubahnya menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah tinggi.
Batubara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan efisien jika dikonversi menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang bernilai ekonomi tinggi. Dua cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah likuifikasi (pencairan) dan gasifikasi (penyubliman) batubara.
Membakar batubara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan teknologinya secara continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran yang maksimum, cara-cara pembakaran langsung seperti: fixed grate, chain grate, fluidized bed, pulverized, dan lain-lain, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya.
Gasifikasi Batubara
Coal gasification adalah sebuah proses untuk merubah batubara padat menjadi gas batu bara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian gas-gas ini CO (karbon monoksida), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H), metan (CH4), dan nitrogen (N2) – dapat digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara dan uap air sebagai reacting-gas kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah.
Tetapi, batubara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat didalamnya adalah sulfur dan nitrogen, bila batubara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan ke udara, bila mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air (seperti contoh kabut) dan tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan nitrit, disebut sebagai "hujan asam" “acid rain”. Disini juga ada noda mineral kecil, termasuk kotoran yang umum tercampur dengan batubara, partikel kecil ini tidak terbakar dan membuat debu yang tertinggal di coal combustor, beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di putaran combustion gases bersama dengan uap air, dari asap yang keluar dari cerobong beberapa partikel kecil ini adalah sangat kecil setara dengan rambut manusia.
Bagaimana membuat batubara bersih....?
Ada beberapa cara. Contoh sulfur, sulfur adalah zat kimia kekuningan yang ada sedikit di batubara, pada beberapa batubara yang ditemukan di Ohio, Pennsylvania, West Virginia dan eastern states lainnya, sulfur terdiri dari 3 sampai 10 % dari berat batu bara, beberapa batu bara yang ditemukan di Wyoming, Montana dan negara-negara bagian sebelah barat lainnya sulfur hanya sekitar 1/100ths (lebih kecil dari 1%) dari berat batubara. Penting bahwa sebagian besar sulfur ini dibuang sbelum mencapai cerobong asap.
Satu cara untuk membersihkan batubara adalah dengan cara mudah memecah batubara ke bongkahan yang lebih kecil dan mencucinya. Beberapa sulfur yang ada sebagai bintik kecil di batu bara disebut sebagai "pyritic sulfur " karena ini dikombinasikan dengan besi menjadi bentuk iron pyrite, selain itu dikenal sebagai "fool's gold” dapat dipisahkan dari batubara. Secara khusus pada proses satu kali, bongkahan batubara dimasukkan ke dalam tangki besar yang terisi air , batubara mengambang ke permukaan ketika kotoran sulfur tenggelam. Fasilitas pencucian ini dinamakan "coal preparation plants" yang membersihkan batubara dari pengotor-pengotornya.
Tidak semua sulfur bisa dibersihkan dengan cara ini, bagaimanapun sulfur pada batubara adalah secara kimia benar-benar terikat dengan molekul karbonnya, tipe sulfur ini disebut "organic sulfur," dan pencucian tak akan menghilangkannya. Beberapa proses telah dicoba untuk mencampur batubara dengan bahan kimia yang membebaskan sulfur pergi dari molekul batubara, tetapi kebanyakan proses ini sudah terbukti terlalu mahal, ilmuan masih bekerja untuk mengurangi biaya dari prose pencucian kimia ini.
Kebanyakan pembangkit tenaga listrik modern dan semua fasilitas yang dibangun setelah 1978 — telah diwajibkan untuk mempunyai alat khusus yang dipasang untuk membuang sulfur dari gas hasil pembakaran batubara sebelum gas ini naik menuju cerobong asap. Alat ini sebenarnya adalah "flue gas desulfurization units," tetapi banyak orang menyebutnya "scrubbers" — karena mereka men-scrub (menggosok) sulfur keluar dari asap yang dikeluarkan oleh tungku pembakar batubara.
Membuang NOx dari batubara
Nitrogen secara umum adalah bagian yang besar dari pada udara yang dihirup, pada kenyataannya 80% dari udara adalah nitrogen, secara normal atom-atom nitrogen mengambang terikat satu sama lainnya seperti pasangan kimia, tetapi ketika udara dipanaskan seperti pada nyala api boiler (3000 F=1648 C), atom nitrogen ini terpecah dan terikat dengan oksigen, bentuk ini sebagai nitrogen oksida atau kadang kala itu disebut sebagai NOx. NOx juga dapat dibentuk dari atom nitrogen yang terjebak didalam batubara.
Di udara, NOx adalah polutan yang dapat menyebabkan kabut coklat yang kabur yang kadang kala terlihat di seputar kota besar, juga sebagai polusi yang membentuk “acid rain” (hujan asam), dan dapat membantu terbentuknya sesuatu yang disebut “ground level ozone”, tipe lain dari pada polusi yang dapat membuat kotornya udara.
Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx adalah menghindari dari bentukan asalnya, beberapa cara telah ditemukan untuk membakar barubara di pemabakar dimana ada lebih banyak bahan bakar dari pada udara di ruang pembakaran yang terpanas. Di bawah kondisi ini kebanyakan oksigen terkombinasikan dengan bahan bakar daripada dengan nitrogen. Campuran pembakaran kemudian dikirim ke ruang pembakaran yang kedua dimana terdapat proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis terbakar. Konsep ini disebut "staged combustion" karena batubara dibakar secara bertahap. Kadang disebut juga sebagai "low-NOx burners" dan telah dikembangkan sehingga dapat mengurangi kangdungan Nox yang terlepas di uadara lebih dari separuh. Ada juga teknologi baru yang bekerja seperti "scubbers" yang membersihkan NOX dari flue gases (asap) dari boiler batu bara. Beberapa dari alat ini menggunakan bahan kimia khusus yang disebut katalis yang mengurai bagian NOx menjadi gas yang tidak berpolusi, walaupun alat ini lebih mahal dari "low-NOx burners," namun dapat menekan lebih dari 90% polusi Nox.
Cadangan Batubara Dunia
Daerah batubara di Amerika Serikat
Pada tahun 1996 diestimasikan terdapat sekitar satu exagram (1 × 1015 kg atau 1 trilyun ton) total batubara yang dapat ditambang menggunakan teknologi tambang saat ini, diperkirakan setengahnya merupakan batubara keras. Nilai energi dari semua batubara dunia adalah 290 zettajoules.[4] Dengan konsumsi global saat ini adalah 15 terawatt,[5] terdapat cukup batubara untuk menyediakan energi bagi seluruh dunia untuk 600 tahun.
British Petroleum, pada Laporan Tahunan 2006, memperkirakan pada akhir 2005, terdapat 909.064 juta ton cadangan batubara dunia yang terbukti (9,236 × 1014 kg), atau cukup untuk 155 tahun (cadangan ke rasio produksi). Angka ini hanya cadangan yang diklasifikasikan terbukti, program bor eksplorasi oleh perusahaan tambang, terutama sekali daerah yang di bawah eksplorasi, terus memberikan cadangan baru.
Departemen Energi Amerika Serikat memperkirakan cadangan batubara di Amerika Serikat sekitar 1.081.279 juta ton (9,81 × 1014 kg), yang setara dengan 4.786 BBOE (billion barrels of oil equivalent).[6] The United States Department of Energy uses estimates of coal reserves in the region of 1,081,279 million short tons (9.81 × 1014 kg), which is about 4,786 BBOE (billion barrel of oil equivalent) (1,081,279*0.907186*4.879) .[7] The amount of coal burned during 2001 was calculated as 2.337 GTOE (gigatonnes of oil equivalent), which is about 46 million barrels of oil equivalent per day.[8] Were consumption to continue at that rate those reserves would last about 285 years. As a comparison natural gas provided 51 million barrels (oil equivalent), and oil 76 million barrels, per day during 2001.
Of the 3 fossil fuels coal has the most widely distributed reserves, and coal is mined in over 100 countries, and on all continents except Antarctica. The largest reserves are found in the USA, Russia, Australia, China, India and South Africa.-->
Cadangan batubara dunia pada akhir 2005 (dalam juta ton)[9][10][11][12]Negara Bituminus (termasuk antrasit) Sub-bituminus Lignit TOTAL
Amerika Serikat 115.891 101.021 33.082 249.994
Federasi Rusia 49.088 97.472 10.450 157.010
China 62.200 33.700 18.600 114.500
India 82.396 2.000 84.396
Australia 42.550 1.840 37.700 82.090
Jerman 23.000 43.000 66.000
Afrika Selatan 49.520 49.520
Ukraina 16.274 15.946 1.933 34.153
Kazakhstan 31.000 3.000 34.000
Polandia 20.300 1.860 22.160
Serbia, Montenegro 64 1.460 14.732 16.256
Brasil 11.929 11.929
Kolombia 6.267 381 6.648
Kanada 3.471 871 2.236 6.578
Ceko 2.114 3.414 150 5.678
Indonesia 790 1.430 3.150 5.370
Botswana 4.300 4.300
Uzbekistan 1.000 3.000 4.000
Turki 278 761 2.650 3.689
Yunani 2.874 2.874
Bulgaria 13 233 2.465 2.711
Pakistan 2.265 2.265
Iran 1.710 1.710
Britania Raya 1.000 500 1.500
Rumania 1 35 1.421 1.457
Thailand 1.268 1.268
Meksiko 860 300 51 1.211
Chili 31 1.150 1.181
Hongaria 80 1.017 1.097
Peru 960 100 1060
Kirgiztan 812 812
Jepang 773 773
Spanyol 200 400 60 660
Korea Utara 300 300 600
Selandia Baru 33 206 333 572
Zimbabwe 502 502
Belanda 497 497
Venezuela 479 479
Argentina 430 430
Filipina 232 100 332
Slovenia 40 235 275
Mozambik 212 212
Swaziland 208 208
Tanzania 200 200
Nigeria 21 169 190
Greenland, Denmark 183 183
Slowakia 172 172
Vietnam 150 150
Kongo 88 88
Korea Selatan 78 78
Niger 70 70
Afganistan 66 66
Aljazair 40 40
Kroasia 6 33 39
Portugal 3 33 36
Prancis 22 14 36
Italia 27 7 34
Austria 25 25
Ekuador 24 24
Mesir 22 22
Irlandia 14 14
Zambia 10 10
Malaysia 4 4
Republik Afrika Tengah 3 3
Myanmar 2 2
Malawi 2 2
Kaledonia Baru 2 2
Nepal 2 2
Bolivia 1 1
Norwegia 1 1
Taiwan 1 1
Swedia 1 1
Negara Pengekspor Batubara Utama
- Pengekspor batubara berdasarkan negara dan tahun
(dalam juta ton)[13]Negara 2003 2004
Australia 238,1 247,6
Amerika Serikat 43,0 48,0
Afrika Selatan 78,7 74,9
Bekas Uni Soviet 41,0 55,7
Polandia 16,4 16,3
Kanada 27,7 28,8
Republik Rakyat Cina 103,4 95,5
Amerika Selatan 57,8 65,9
Indonesia 107,8 131,4
Selasa, 30 Desember 2008
Geologi Ilmu yang Kurang Diminati
Ilmu Geologi sepertinya kurang diminati oleh para pelajar SMU yang mau meneruskan studinya ke jenjang perkuliahan. Hal ini dapat terlihat dari ketidaktahuan masyarakat dalam hal ini pelajar terhadap geologi. Banyak pelajar yang tidak mengetahui apa itu geologi. Mereka lebih berminat kepada ilmu-ilmu yang lain seperti MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), Teknik Sipi, Teknik Industri, Teknik Informatika, dan lain-lain. Rasanya jarang sekali pelajar yang menjadikan Teknik Geologi sebagai pilihan pertama mereka. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya ilmu geologi diterapkan pada sekolah umum dan ilmu geologi yang jarang terekspos ke media massa.
Padahal prospek kerja Geologist (sebutan untuk para ahli geologi) sangatlah cerah. Tidak ada satu orang pun Geologist yang sulit mendapatkan pekerjaan di tengah banyaknya pengangguran sarjana. Hal ini dikarenakan sangat dibutuhkannya tenaga geologi dalam dunia pekerjaan khususnya bidang migas. Apalagi melihat persediaan minyak dunia yang semakin terbatas mengakibatkan geologist sangat dibutuhkan untuk mencari sumber minyak baru. Walaupun Lulusan Geologi mempunyai IP rendah, ia masih dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan.
Paleontologi
Fosil
Fosil, dari bahasa Latin fossa yang berarti "galian", adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral. Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera tertutup sedimen. Oleh para pakar dibedakan beberapa macam fosil. Ada fosil batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu ambar, fosil ter, seperti yang terbentuk di sumur ter La Brea di Kalifornia. Hewan atau tumbuhan yang dikira sudah punah tetapi ternyata masih ada disebut fosil hidup. Ilmu yang mempelajari fosil adalah paleontologi.
1. Sisa-sisa organisme.
2. Terawetkan secara alamiah.
3. Pada umumnya padat/kompak/keras.
4. Berumur lebih dari 11.000 tahun.
Fosilisasi merupakan proses penimbunan sisa-sisa hewan atau tumbuhan yang terakumulasi dalam sedimen atau endapan-endapan baik yang mengalami pengawetan secara menyeluruh, sebagian ataupun jejaknya saja. Terdapat beberapa syarat terjadinya pemfodilan yaitu antara lain:
Organisme mempunyai bagian tubuh yang keras
1. Mengalami pengawetan
2. Terbebas dari bakteri pembusuk
3. Terjadi secara alamiah
4. Mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit
5. Umurnya lebih dari 10.000 tahun yang lalu.
Eksplorasi Batu Bara
*Batubara
Cadangan batubara di Indonesia sangatlah banyak. Batubara di indonesia berumur Terrier tersebar di sumatera berjumlah 24,7 milyar ton (69,7%) di kalimantan 11,5 milyar ton (31,6%) dan sisanya di jawa, sulawesi dan Irian Jaya. Sebagian besar (60%) berjenis lignit dengan ciri-ciri mengandung kadar air total tinggi (lebih dari 30%) nilai kalor antara 400o-500o : 400-500 kcal/kg. Batuan jenis ini terdapat di sumatera selatan/tengah dan kalimantan selatan, sedangkan sebagian lagi (36%) termasuk batubara jenis subbituminus dan bitumenus dengan ciri-ciri kandungan kadar air total 15% dan nilai kalor antara 6000-7000 kcal/kg. Sebagian kecil ditemukan batubara jenis antrasit dan semi antrasit yang terdapat di sumatera selatan (bukit asam dan mungkin di kalimantan barat dan daerah lainnya yang berhubungan dengan intrusi batuan beku terdapat batuan sedimen yang mengandung batubara. Melihat prospeknya dimasa mendatang banyak perusahaann-perusahaan yang bergerak di bidang ekplorasi dan eksploitasi batubara.
Pada pemanfaatan batubara perlu diketahui sifat-sifat yang akan ditunjukkan oleh batubara tersebut, baik yang bersifat fisik, kimiawi, dan mekanis. Sifat-sifat ini akan dapat diketahui dari hasil pengujian dan analisis batubara.
• Berdasarkan pertimbangan tersebut maka sangatlah penting untuk mengetahui bagaimana proses pembentukan batubara, faktor yang mempengaruhi pembentukan batubara serta faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap komposisi kimia,fisik, dan mekanis batubara dan jumlah sumberdaya batubara. Oleh sebab itu maka studi dan analisis mengenai kandungan dan sifat-sifat batubara sangatlah penting. Selain itu hal ini juga sangat bermanfaat khususnnya untuk mengetahui kwalitas dari batubara, sehingga dapat ditentukan jenis batubara yang bernilai ekonomis tinggi dan laku di pasaran nasional dan internasional sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang maksimum bagi perusahaan.
*Analisa data lapangan
Data yang didapatkan berupa data hasil bor kemudian akan dianalisis dan kemudian direlevankan dengan kajian pustaka dan literatur yang sebelumnya telah dilakukan, setelah ditemui titik releven, kemudian data akan diolah dengan menggunakan sistem komputerisasi dengan perangkat software yang mendukung yang akan megolah aspek-aspek yang dibutuhkan seperti model endapan, penyebarannya, kadar, dsb . Hasil akhir dari pengolahan dan analisis data ini akan disusun dalam bentuk laporan yang bersifat naratif, deskriptif, tabulatif, dan spasial/diagramis.
Provenance,Proses,dan Diagenesis Sedimen
Batuan sedimen berasal dari pelapukan dan erosi batuan yang telah ada sebelumnya. Sedimen tertransportasi oleh bermacam-macam agen termasuk gravitasi, air yang mengalir, angin dan es yang bergerak (gletser). Sediment tersebut akan berpindah dari asalnya ke tempat-tempat pengendapan yang beragam. Di tempat tersebut sedimen diendapkan dalam berbagai macam litofasies yang karakternya tergantung pada lingkungan pengendapannya. Setelah pengendapan dan terjadinya timbunan sedimen, akumulasi sedimen itu mengalami diagenesis. Proses-peroses fisika, kimia dan biologi mengakibatkan: (1) perubahan dari sediment menjadi batuan sediment, (2) terjadinya modifikasi pada tekstur dan mineralogi pada batuan. Diagenesis berlawanan dengan pelapukan karena proses pelapukan merupakan perubahan dari batuan menjadi tanah. Arah reaksi keduanya berlawanan. Pada pelapukan terjadi degradasi dan proses yang mengakibatkan batuan menjadi lepas, terdiri dari mineral yang stabil pada permukaan bumi, sedangkan pada diagenesis material sedimen berubah menjadi lebih padu.
Pelapukan dan Provenance
Sifat endapan sediment pada berbagai lingkungan tergantung pada beberapa faktor yaitu :
1. Sumber atau tempat sediment itu berasal, yang mengontrol jenis material yang terdapat sebagai sedimen
2. Pelapukan dan transportasi, yang mengontrol perubahan-perubahan yang terjadi pada material sedimen
3. Keadaan lingkungan pengendapan sedimen.
Pelapukan
Pelapukan secara umum terbagi menjadi proses yaitu:
1. Proses fisika yang disebut sebagai disintegrasi
2. Proses kimia yang disebut dekomposisi.
Prinsip disintegrasi pada pembentukan tanah atau sedimen yaitu berkurangnya ukuran butir tanpa perubahan pada komposisi kimianya. Hal ini terjadi akibat penghancuran secara fisika melalui:
• Abrasi, yaitu proses penggerusan batuan oleh agen transport seperti air dan es.
• Frost Action, yaitu proses pembekuan air dalam batuan. Hal ini mengakibatkan batuan terpecah akibat bertambahnya volume air ketika membeku.
• Aktivitas biologi, di antaranya rekahan pada batuan karena pertumbuhan akar.
Berkurangnya ukuran butir mengakibatkan bertambahnya luas permukaan partikel, hal ini tentunya akan meningkatkan laju reaksi kimia yang terjadi selama proses dekomposisi.
Proses dekomposisi diantaranya oksidasi, reduksi, solusi (larut), hidrasi, dan hidrolisis. Oksidasi adalah proses dimana bilangan oksidasi (valensi) suatu ion meningkat sedangkan reduksi adalah kebalikannya. Salah satu proses oksidasi yang umum pada pelapukan yaitu oksidasi pada besi. Contohnya adalah magnetit, suatu mineral yang umum ditemukan pada batuan beku, sedimen dan metamorf yang berubah menjadi mineral hasil pelapukan yang umum yaitu hematite.
4Fe2O3.FeO + O2 ---> 6 Fe2O3
Magnetit + Oksigen hematite
(Contoh proses reduksi yaitu pembentukan pirit pada kondisi anaerobik.)
Air berperan sangat penting dalam proses dekomposisi sebagai pelarut atau reaktan. Contohnya air dan asam pada larutan merupakan dua agen pelarut utama. Pelarutan adalah proses yang mana material yang dapat larut terlarut, atau pecah menjadi ion. Contohnya yaitu dekomposisi pada piroksen:
(Mg, Fe, Ca)SiO3 + 2 H+ + H2O ---> Mg2+ + Fe2+ + Ca2+ + H4SiO4
Piroksen + Ion Hidrogen + air Ion Mg, Fe, Ca + molekul silicic acid
Reaksi yang sama terjadi pada mineral ferromagnesian silicates yang lain. Ion Ca, Mg dan silicic acid yang dihasilkan pada reaksi ini tertransportasikan jauh melalui larutan, sedangkan ion Fe mungkin mengalami oksidasi atau hidrasi atau keduanya dan terpresipitasi sebagai hematite atau geotit. Hal yang sama, mineral karbonat terlarutkan menghasilkan ion Ca, Mg dan molekul bikarbonat, yang semuanya tertransportasi sebagai larutan.
Air juga penting dalam hidrasi dan hidroslisis. Hidrasi adalah reaksi air dan komponen yang lain yang menghasilkan fase lain. Contohnya, goetit yang dihasilkan dari hematite melalui reaksi hidrasi:
Fe2O3 + H2O ---> 2 FeOOH
Hidrolisis adalah reaksi kelebihan H+ atau OH- yang dihasilkan reaksi yang bersangkutan. Reaksi hidrolisis terlihat sebagai reaksi penggantian kation suatu struktur mineral oleh hydrogen. Contohnya, pelapukan olivine menjadi silicic acid, ion Fe dan Mg, dimana hydrogen menggantikan Mg dan Fe.
(Mg, Fe)2SiO4 + 4 H2O ---> xMg2+ + 2-xFe2+ + H4SiO4 + 4 (OH)-
Hal yang sama terjadi pada hidrolisis feldspar dan segera setelah itu membentuk mineral lempung kaolinit:
KAlSi3O8 +H2O ---> HAlSi3O8 + K+ + OH-
2 HAlSi3O8 + 9 H2O ---> Al2Si2O5(OH)4 + 4 H4SiO4
Setiap proses dekomposisi adalah perubahan mineral yang tidak stabil pada permukaan bumi berubah menjadi mineral, molekul, atau ion yang lebih stabil dibawah kondisi permukaan. Produk utama pada proses ini yaitu kuarsa, mineral lempung, oksida besi, dan ion seperti Ca2+ dan Mg2+. Tiga produk hasil pelapukan karbonat berupa ion Ca dan Mg-, Mineral lempung, dan kuarsa serta opal dihasilkan dari proses yang kira-kira sama dengan umur bumi yaitu 4,5 miliar tahun.
Kestabilan relatif dari mineral selama proses pelapukan dikemukakan oleh Goldich (1938) yang merupakan kebalikan dari Deret Bowen. Dia menemukan bahwa Olivine, Augite (klinopiroksen), dan Ca-plagioklas lebih mudah terlapukan dibandingkan dengan kuarsa dan muskovit. Walaupun secara umum hal ini benar, proses pelapukan lebih rumit dari perkiraan. Hal lain yang mempengaruhi adalah iklim, mikroba dan tanaman dan asam yang dihasilkannya. Olivine, augite, dan plagioklas mengandung unsur Mg, Na, K, Ca, yang mudah telepas melalui pemecahan ikatan ion dengan oksigen. Si, Al, dan Ti membentuk ikatan kovalen dengan oksigen yang lebih sulit untuk pecah, yang mencegah pemecahan mineral seperti kuarsa.
Provenance
Provenance adalah sumber material sedimen, yang merupakan faktor utama yang menentukan komposisi sedimen. Faktor provenance mengontrol proses pelapukan dan sifat sedimen yang dapat disuplai oleh berbagai macam agen. Faktor ini diantaranya relief dan elevasi yang merupakan fungsi dari setting tektonik, iklim dan vegetasi yang bersangkutan, serta komposisi dari batuan asal. Pada komposisi batuan asal kita bisa mengambil contoh yang sederhana, bila batuan asalnya banyak mengandung kuarsa maka sedimen yang dihasilkan akan banyak mengandung kuarsa juga. Bila batuan sumbernya kaya akan feldsfar maka sedimen yang dihasilkan akan banyak mengandung feldsfar dan mineral lempung tergantung dari tingkat pelapukan batuannya.
Relief dan elevasi dari provenance akan berpengaruh pada dekomposisi dan disintegrasi, dan transportasinya. Relief adalah perbedaan ketinggian didalam cekungan erosional, yang mengontrol laju erosi. Secara umum, daerah yang memiliki relief yang tinggi, yang merupakan daerah uplift yang aktif, akan mengalami laju erosi yang tinggi. Sebaliknya pada daerah yang berelief rendah yang umumnya datar memiliki laju erosi yang rendah. Daerah yang datar merupakan daerah metastabil dimana energi potensial minimum. Konsekuensinya material tidak bisa turun dan mengakibatkan laju disintegrasi rendah, hal ini akan mengakibatkan proses dekomposisi berlangsung cukuip lama.
Elevasi provenance juga penting, karena elevasi akan mempengaruhi iklim, dimana pada gilirannya akan mempengaruhi proses disintegrasi dan dekomposisi. Pada elevasi yang tinggi air akan membeku, hal ini tentunya akan menyebabkan proses disintegrasi terutama frost action berperan cukup dominan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada elevasi yang tinggi proses disintegrasi cukup dominan sedangkan pada elevasi yang rendah terutama daerah tropis proses dekomposisi cukup dominan.
Iklim dan vegetasi juga memiliki peran yang penting. Pada iklim dingin laju proses dekomposisi akan rendah sedangkan laju proses disintegrasi akan tinggi. Sebaliknya pada iklim hangat proses dekomposisi akan lebih dominan daripada proses disintegrasi dan pada iklim panas proses yang dominan adalah disintegrasi sama seperti pada iklim dingin. Vegetasi akan banyak pada iklim hangat, basah dari pada iklim dingin dan panas. Vegetasi dapat menghasilkan asam organik dan senyawa lain yang dapat menyebabkan proses dekomposisi. Contohnya lava muda di Hawaii yang ditutupi oleh tumbuhan (lichens, yang banyak mengandung besi, terlapukan lebih tinggi daripada batuan yang sama dan seumur. Hal ini dapat menjawab pertanyaan mengenai proses disintegrasi dan dekomposisi pada pre-Devonian yang vegetasinya kurang, dimana pada pre-Devonian proses disintegrasi lebih penting dari pada dekomposisinya sehingga sedimennya sedikit mengandung lempung.
Produk hasil pelapukan
Produk yang dihasilkan dari pelapukan yaitu kuarsa, mineral lempung dan oksida besi dan hidrat yang merupakan material residu yang tertinggal di tanah yang dihasilkan dari batuan yang terdekomposisi tinggi. Silicic acid dan kation berbagai logam (termasuk Ca, Mg, Fe, Mn, Na, dan K) dan P akan tertransportasikan jauh dari sumbernya.
Transportasi sediment
Transportasi sedimen dimulai ketika material terlapukan dan ion terlarut. Transportasi material yang terlarut disebut transportasi larutan, sedangkan material padat tertransportasi melalui transportasi mekanik. Transportasi mekanik di antaranya falling, sliding, rolling, bouncing(saltation), flowing dan transportasi supensi.
Transportasi sedimen tergantung pada sifat fisik dari agen transportasi, sifat material, sifat fisik dari campuran agen transportasi dan material, dan gaya yang menyebabkan transportasi.
Agen transportasi diantaranya gravitasi, air mengalir, angin dan es yang bergerak. Gravitasi tidak hanya menyebabkan pergerakan material tetapi juga menggerakan arus air dan es untuk bergerak turun.
Transportasi mekanik, di antaranya:
• Transportasi gravitasi
Gravitasi merupakan agen utama yang mengakibatkan transportasi pada landslides dan massflow. Pada pergerakan masa subaeria (falls, slides, slumps, avalanches, mudflowa, dan subaerial debris flows) dan submarine debris flow transportasi terjadi ketika gaya yang menahan (resisting force) terlampaui.
Pada falls, slides, slumps dan avalanches, retakan dihasilkan ketika batuan kehilangan gaya kohesi antara partikelnya yang kemudian bergerak dan berhenti ketika energinya habis. Sedimen yang dihasilkan berupa breksi atau diamicite yang terpilah buruk, tidak berlapis.
Pada debris flows, mudflows dan olisostrom seluruh masa diendapkan sekali. Pergerakannya biasanya berlangsung ketika terdapat air yang mengakibatkan gaya gesek antar partikel mengecil dan mengakibatkan masa meluncur dan terendapkan dengan kacau. Produk yang dihasilkan terpilah buruk, banyak material Lumpur dan lapisan biasanya tebal dan massive.
Grain flow adalah aliran dari butiran sediment yang inkohesif yang terdapat pada lereng yang curam. Aliran terjadi ketika akumulasi sedimen melebih gaya gesek antar partikel dan ketika gempa bumi. Endapan yang dihasilkan berupa pasir yang terpilah baik, tak berstruktur sampai berlaminasi secara lokal.
• Transportasi glacial
Transportasi ini dihasilkan oleh gaya gravitasi terhadap aliran fluida, tetapi laju alirannya sangat lambat. Glacier membawa partikel melalui penggusuran sepanjang dasar dan sisinya. Partikel yang besar biasanya tertinggal dan yang lebih kecil akan terbawa lebih jauh. Sedimen yang terpilah baik, berukuran halus diendapkan sebagai outwash dan yang terpilah buruk dan kasar diendapkan sebagai till.
• Transportasi air dan udara
Ketika air dan udara bergerak terjadi gesekan antara fluida dengan sekitarnya. Turbulensi dimulai dekat batas dengan sekitarnya, seperti dekat dasar sungai sebagai hasil dari interaksi gaya di tempat tersebut. Faktor yang menentukan bergeraknya partikel adalah ukuran, densitas dan bentuk partikel, kecepatan aliran, viskositas fluida dan batas gaya gesek.
Sedimentasi akan terjadi ketika fluida melambat. Masing-masing ukuran partikel jatuh keluar dari suspensi dan menjadi bagian dari pergerakan bed load. Pada unit pengendapan dari suspensi biasanya berupa laminasi tabular, ketebalan bervariasi tetapi biasanya tipis saja. Lapisan dari bed load yang terendapkan melalui traksi mungkin tipis tetapi cenderung sedang sampai tebal dan membentuk cross bedding, imbrikasi butir dan ripple marks.
Transportasi kimia
Ion dan molekul yang dihasilkan dari dekomposisi akan menjadi bagian dari larutan dalam air tanah dan air permukaan. Selama perpindahan larutan mungkin mengalami pengenceran, pengkonsentrasian dan perubahan dalam kimianya karena reaksi dengan batuan yang dilaluinya. Jika bereaksi dengan batuan atau sediment, batuan dan sediment mengalami perubahan diagenesis. Presipitasi kimia yang terjadi selama diagenesis merupakan salah satu bentuk pengendapan kimia.
Diagenesis
Setelah sedimen terendapkan, diagenesis adalah proses yang bekerja pada sedimen tersebut. Diagenesis merupakan proses fisika, kimia dan biologi yang secara umum mengubah sedimen menjadi batuan sedimen. Diagenesis kemungkinan berlanjut bekerja setelah sedimen menjadi batuan, mengubah tekstur dan mineraloginya.
Tujuh proses diagenesis yang terjadi yaitu :
1. Kompaksi
2. Rekristalisasi
3. Pelarutan
4. Sementasi
5. Autigenisasi
6. Replacement
7. Bioturbasi
Kompaksi adalah proses yang menyebabkan volume sedimen berkurang. Ini dihasilkan oleh tekanan penutup (overburden), yang diakibatkan oleh berat dari sedimen dan batuan di atasnya. Tekanan ini mengakibatkan penyusunan kembali butiran dan pengeluaran fluida, hal ini menghasilkan pengurangan porositas batuan sedimen. Kemungkinan tingkat kompaksi merupakan fungsi dari ukuran butir, bentuk butir, pemilahan, porositas awal dan jumlah fluida yang terdapat dalam sedimen. Sedimen dengan pemilahan yang baik, membundar akan kurang kompak bila dibandingkan dengan sedimen yang terpilah buruk dan menyudut. Pada sedimen yang terpilah buruk ukuran butir yang kecil akan mengisi rongga antar butiran yang besar dan pada sedimen yang menyudut, ikatan antar butirnya akan sangat kuat karena bersifat saling mengunci. Pada pasir porositas awalnya sekitar 25% - 50%, pada sedimen karbonat kemungkinan cukup tinggi yaitu sekitar 50% - 75% dan pada lumpur lempung lebih dari 85%. Pada batuan sedimen porositas kecil yaitu 0% - 2% hal ini dikarenakan kompaksi dan proses diagnesis lain terutama sementasi.
Rekristalisasi adalah proses di mana kondisi fisika dan kima menyebabkan pengorientasian kembali kristal lattice pada butir mineral. Rekristalisasi bekerja melalui pelarutan dan presipitasi dari fase mineral yang terdapat pada batuan. Ketika fluida melewati batuan atau sedimen, komponen pada sedimen yang tidak stabil karena tekanan, pH, temperature akan mengalami pelarutan. Kemudian material yang terlarut itu akan mengalami transportasi dan akan terpresipitasi pada pori-pori sediment yang memiliki kondisi yang berbeda. Hal yang penting yaitu tekanan pelarutan, yaitu suatu proses di mana tekanan terkonsentrasi pada satu titik antara dua butir yang menyebabkan pelarutan dan migrasi ion atau molekul yang menjauhi titik itu. Lewat proses ini massa tertransportasi dari titik kontak menuju tempat dengan tekanan yang lebih rendah yang memungkinkan presipitasi dari larutan itu. Tentunya rekristalisasi ini akan menyebabkan pengurangan porositas sedimen dan memfasilitasi rekristalisasi tekstur.
Sementasi adalah proses di mana terjadi presipitasi kimia pada pembentukan kristal baru, terbentuk didalam pori-pori sedimen atau batuan yang mengikat satu butir dengan butir lainnya. Semen yang umum yaitu kuarsa, kalsit dan hematite, tetapi jenis semen secara luas di antaranya aragonite, Mg kalsit, dolomite, gypsum celesite, goethite, dan todorit. Tekanan pelarutan secara local dapat menghasilkan semen, tetapi banyak semen merupakan material baru (allochemical material) yang masuk melalui larutan. Jelas bahwa proses sementasi akan mengakibatkan berkurangnya porositas dan menghasilkan tekstur baru seperti spherulitic, comb texture, dan poikilotopic texture.
Autigenesis (neocrystalitation) adalah proses yang mana fase mineral baru mengalami kristalisasi didalam sediment atau batuan selama proses diagenesis ataupun setelahnya. Mineral baru mungkin terbentuk melalui reaksi di dalam fase yang terdapat dalam sedimen atau batuan, mungkin juga muncul karena presipitasi dari material yang masuk melalui fase fluida, atau dihasilkan dari kombinasi sedimen primer dan material yang masuk. Autigenesis operlap dengan pelapukan, sementasi dan biasanya rekristalisasi, dan kemungkinan menghasilkan replacement. Jenis dari fasa autigenesis jauh lebih beragam dibandingkan dengan mineral semen. Fase autigenesis termasuk silikat seperti kuarsa, K-feldspar, lempung,dan zeolite; carbonat seperti kalsit, dolomite dan carbonat besi; evaporate mineral seperti halit, sylvite, gypsum dan anhidrit;oksida seperti hematite, goetit, todorokit; dan mineral samping lainnyatermasuk sulfat, sulfide dan fosfat.
Replacement yaitu proses yang mana mieral baru menggantikan (secara kimia dan fisika) in situ pada endapan mineral. Replacement mungkin bersifat neomorphic, yang mana butiran yang baru memiliki fase yang sama dengan asalnya atau polimorpisme dari fase asalnya. Pseudomorfic yang mana fase baru merupakan tiruan dari bentuk eksternal dari fase yang digantikan tetapi fasenya berbeda, allomorphic yaitu replacement dalam bentuk fase baru yang biasanya berbeda bentuk kristalnya dan menggantikan sepenuhnya fase sediment asal. Fase replacement sama beragamnya dengan fase autigenesis, tetapi fase replacement yang penting yaitu dolomite, opal, kuarsa dan ilite.
Bioturbasi adalah aktifitas biologis yang terjadi dekat permukaan, termasuk burrowing, boring dan pencampuran sedimen oleh organisme. Pada beberapa kasus proses ini dapat meningkatkan kompaksi, menghancurkan laminasi dan perlapisan. Selama proses bioturbasi beberapa organisme mempresipitasikan material yang berfungsi sebagai semen.
Daigenesis biasanya dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1. Eogenesis, proses awal diagenesis yang terdapat di antara endapan dan timbunan, atau dekat permukaan,
2. Mesogenesis, tahap tengah dari proses diagenesis yang terjadi setelah penimbunan,
3. Telogenesis, tahap akhir dari proses diagenesis.